Akhlak dan Tasawuf


AKHLAK

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP AKHLAK

Sebagaimana telah kita ketaui bahwa komponen (utama) agama Islam adalah akidah, syari’ah dan akhlak. Di dalam Al-Qur’an terdapat kata ihsan yang artinya berbuat kebajikan atau kebaikan (antara lain pada surat an-nahl (16) ayat 90) dan kebajikan (pada surat ar-Rahman (55) ayat 60).

Kata akhlaq (kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi akhlak) berasal dari kata khilqun, yang mengandung segi-segi persesuaian kata khaliq dan makluq. Menurut definisi yang dikemukakan oleh al ghazali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan, tanpa terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama.

Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu perbuatan atau tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik , tetapi manakala ia melahirkan perbuatan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk.(Mahyudin; 1911 :5).

Kata dalam bahasa Indonesia yang lebih mendekati maknanya dengan akhlak adalah budi pekerti. Yang termasuk ke dalam pengertian positif adalah segala tingkah laku, tabiat, watak dan perangai yang sifatnya benar, amanah, sabar, pemaaf, rendah hati dan lain lain sifat yang baik. Sedangkan yang buruk adalah semua tingkah laku, perangai, watak sombong, dendam, dengki, kianat, dan lain-lain yang buruk.

Suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai cermin akhlak, jika memenuhi syarat berikut:

  1. Dilakukan berulang-ulang sehingga hamper menjadi suatu kebiasaan.
  2. Timbul dengan sendirinya, tanpa pertimbangan yang lama dan dipikir-pikir telebih dahulu.

Akhlak adalah sikap yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia. Dalam garis besarnya, seperti telah disebut di depan, akhlak dibagi dua pertama adalah akhalak terhadap Allah atau Khalik (pencipta), yang kedua adalah akhlak terhadap makhluk(semua ciptaan Allah).

Dipandang dari terminologi, ilmu akhlak adalah ilmu yang menetukan batas baik dan buruk, antara yang terpuji dengan yang tercala tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin (Asmaran AS, 1994:4,5)

Akhlak terhadap mahluk dibagi dua yaitu:

  1. Akhlak terhadap manusia
  2. Akhlak terhadap bukan manusia

Akhlak terhadap manusia dibagi lagi menjadi:

  1. Akhlak terhadap diri sendiri
  2. Akhlak terhadap orang lain dapat disebut misalnya akhlak terhadap Rasulullah, akhlak terhadap orang tua, akhlak terhadap kerabat, akhlak terhadap tetangga, akhlak terhadap masyarakat.

Akhlak terhadap bukan manusia dibagi lagi menjadi:

  1. Akhlak terhadap mahluk hidup bukan manusia, misalnya akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan (flora) dan hewan (fauna).
  2. Akhlak terhadap makhluk (mati) bukan manusia, misalnya akhlak terhadap tanah, air, udara, dan sebagainya. Akhlak terhadap manusia dan bukan manusia, kini disebut akhlak terhadap lingkungan hidup.

PERBANDINGAN UKURAN BAIK BURUK DALAM AKHLAK DENGAN ALIRAN DALAM FILASAFAT ETIKA

Perkataan moral berasal dari bahasa latin mores, jamak kata mos yang berate adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, moral artinya ajaran etntang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi perketi, akhlak.

Moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik, buruk. Dalam ensiklopedi pendidikan (1976) Sugarda Poerbakawatja menyebutkan, sesuai dengan makan aslinya dalam bahasa latin (mos), adat istiadat menjadi dasar untuk menetukan apakah perbuatan seseorang baik atau buruk.

Perkataan etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berati kebiasaan. Yang dimaksud adalah kebiasaan baik atau buruk. Dalam kepustakaan, umumnya, kata etika diartikan sebagai ilmu. Makna etika dalam kamus besar bahasa Indonesia, misalnya adalah ilmu apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral atau akhlak. Di dalam ensiklopedi pendidikan tersebut diatas terangkan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kesusilaan artinya perihal susila (beradab, sopan, tertib), berkenaan dengan adab (kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti) dan sipan santun, sesuai dengan norma-norma tata susila (Asmaran AS 1994:10) menurut kebiasaan di suatu tempat pada suatu masa.

Yang baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang berguna, yang sesuai dengan nilai dan norma agama, nilai serta norma yang terdapat dalam masyarakat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Yang buruk adalah segala sesuatu yang tidak berguna, tidak sesuai dengan nilai dan norma agama serta nilai dan norma masyarakat, merugikan masyarakat dan diri sendiri. Yang menentukan baik atau buruk suatu sikap (akhlak) yang melahirkan perilaku atau perbuatan manusia, di dalam agama dan ajaran islam adalah Al-Qur’an yang dijelaskan dan dikembangkan oleh Rasulullah dengan sunnah beliau yang kini dapat dibaca dalam kitab-kitab hadis.

IMPLEMENTASI AKHLAK DALAM KEHIDUPAN BERSAMA

Dalam ruang ini, karena itu, hanya dicantumkan beberapa contoh:

Akhlak terhadap allah (khalik) antara lain adalah:

  1. Al-hubb, yaitu mencintai allah melebihi cinta kepada apa dan siapapun juga dengan mempergunakan firman-Nya dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan kehidupan kecintaan kita kepada Allah diwujudkan dengan cara melaksanakan segala perintah dan mejauhi segala larangan-Nya.
  2. Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh keridaan allah.
  3. As-Syukr, yaitu mensyukuri nikmat dan karunia allah.
  4. Qana’ah, yaitu menerima dengan ikhlas semua kada dan kadar ilahi setelah berikhtiar maksimal (sebanyak-banyaknya, hingga batas tertinggi).
  5. Memohon ampun hanya kepada allah.
  6. At-Taubat bertaubat hanya kepada allah. Taubat yang paling tinggi adalah taubat nasuha yaitu taubat benar-benar taubat, tidak lagi melakukan perbuatan sama yang dilarang allah, dan dengan tertib melakasanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
  7. Tawakkal (berserah diri) kepada allah.

Akhlak terhadap Mahluk dibagi dua:

I. Akhlak terhadap manusia, dapat dirinci menjadi:

1. Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad), antara lain:

  1. Mencintai Rasulullah SAW. secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya.
  2. Menjadikan Rasulullah SAW. sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan kehidupan.
  3. Menjalankan apa yang disuruh-Nya, tidak melakukan apa yang dilarang-Nya.

2. Akhlak terhadap Orang Tua (birrul walidain), diantaranya :

  1. Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya.
  2. Merendahkan diri kepada keduanya diiringi perasaan kasih sayang.
  3. Berkomunikasi dengan orang tua dengan hikmat, mempergunakan kata-kata lemah lembut.
  4. Berbuat baik kepada bapak-ibu dengan sebaik-baiknya, dengan mengikuti nasehat baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat bapak-ibu ridha.
  5. Mendo’akan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.

3. Akhlak terhadap Diri Sendiri, diantaranya :

  1. Memelihara kesucian diri.
  2. Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan, menurut hukum dan akhlak Islam).
  3. Jujur dalam perkataan dan berbuat ikhlas serta rendah diri.
  4. Malu melakukan perbuatan jahat.
  5. Menjauhi dengki dan menjauhi dendam.
  6. Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
  7. Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia.

4. Akhlak terhadap Keluarga, diantaranya :

  1. Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluaraga
  2. Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak.
  3. Berbakti kepada bapak-ibu.
  4. Mendidik anak-anak dengan kasih sayang.
  5. Memelihara hubungan silahturrahim dan melanjutkan silahturrahmi yang dibina orang tua yang telah meninggal dunia.

5. Akhlak terhadap Tetangga, diantaranya :

  1. Saling mengunjungi.
  2. Saling bantu di waktu senang, lebih-lebih tatkala susah.
  3. Saling beri-memberi, saling hormat-menghormati.
  4. Saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.

6. Akhlak terhadap Masyarakat, diantaranya :

  1. Memuliakan tamu.
  2. Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan.
  3. Saling menolong dalam melakukn kebajikan dan taqwa.
  4. Menganjurkan anggota masyarakat termasuk diri sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan orang lain melakukan perbuatan jahat (mungkar).
  5. Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan kehidupannya.
  6. Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.
  7. Mentaati putusan yang telah diambil.
  8. Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita.
  9. Menepati janji.

II. Akhlak terhadap Bukan Manusia (Lingkungan Hidup), diantaranya :

  1. Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup.
  2. Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, flora dan fauna yang sengaja diciptakan Allah SWT. untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya.
  3. Sayang pada sesama makhluk.

Dengan demikian, akhlak terbagi menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Akhlak baik atau terpuji (Akhlaqul Mahmudah), yakni perbuatan baik terhadap Allah SWT., terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya.
  2. Akhlak yang tercela, (Akhlaqul Madzmumah), yakni perbuatan buruk terhadap Allah SWT., perbuatan buruk dengan sesama manusia dan makhluk lainnya.

Berikut akan diuraikan secara singkat mengenai akhlak buruk :

1. Akhlak buruk terhadap Allah SWT. :

  1. Takabbur (Al-Kibru), yaitu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mau mengakui kekuasaan Allah SWT. di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah SWT. yang ada padanya.
  2. Musyrik (Alk-Syirk), yaitu sikap yang mempersekutukan Allah SWT. dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya.
  3. Murtad (Ar-Riddah), yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir.
  4. Munafiq (An-Nifaaq), yaitu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama.
  5. Riya’ (Ar-Riyaa’), yaitu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya. Maka ia berbuat bukan karena Allah SWT. melainkan hanya ingin dipuji oleh sesama manusia. Jadi perbuatan ini kebalikan dari sikap ikhlas.
  6. Boros atau Berfoya-foya (Al-Israaf), yaitu perbuatan yang selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. Allah SWT. melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan dosa terhadap-Nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan sosial dan merusak diri sendiri.
  7. Rakus atau Tamak (Al-Hirshu atau Ath-Thama’u), yaitu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup (Al-Qanaa’ah) dan merupakan akhlak buruk terhadap Allah SWT. karena melanggar ketentuan larangan-Nya.

2. Akhlak buruk terhadap Manusia :

  1. Mudah marah (Al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain.
  2. Iri hati atau dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu), yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu mengingingkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali.
  3. Mengadu-adu (An-Namiimah), yaitu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan sosial keduanya rusak.
  4. Mengumpat (Al-Ghiibah), yaitu perilaku yang suka membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain.
  5. Bersikap congkak (Al-Ash’aru), yaitu sikap dan perilaku yang menampilkan kesombongan, baik dilihat dari tingkah lakunya maupun dari perkataannya.
  6. Sikap kikir (Al-Bukhlu), yaitu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain.
  7. Berbuat aniaya (Azh-Zhulmu), yaitu suatu perbuatan yang merugikan orang lain, baik kerugian materiil maupun non materiil. Dan ada juga yang mengatakan bahwa seseorang yang mengambil hak-hak orang lain termasuk perbuatan dzalim (menganiaya).

TASAWUF

PENGERTIAN DAN TUJUAN TASAWUF

Pengertian tasawuf yang di dalam bahasa asing disebut mystic atau sufism, berasal dari kata suf yakni wol kasar yang dipakai oleh seorang muslim yang berusaha dengan berbagai upaya yang telah ditentukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang melakukan upaya demikian disebut sufi dan ilmu yang menjelaskan upaya-upaya serta tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan dimaksud dinamakan ilmu tasawuf.

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang menjelaskan tata cara pengembangan rohani manusia dalam rangka usaha mencari dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan pengembangan rohani, kaum sufi ingin menyelami makna syari’ah secara lebih mendalam dalam rangka menemukan hakekat agama dan ajaran agama Islam. Bagi kaum sufi yang mementingkan syari’ah dan hakikat sekaligus, shalat misalnya, tidaklah hanya sekedar pengucapan sejumlah kata dalam gerakan tertentu, tetapi adalah dialog spiritual antara manusia dengan Tuhan.

Ada 5 (Lima)  aliran tasawuf, yakni:

  1. Qadiriyah

Aliran ini memuliakan pendirinya Abdul Qadir al- Jailani (116 M). Menurut para pengikutnya, Abdul Qadir al-Jailani adalah orang suci. Kini yang menjadi pemimpin tarikat Qadiriyah adalah juru kunci kuburan Abdul Qadir al-Jailani di Baghdad. Aliran ini berpengaruh di Afrika Utara, Asia Kecil, Pakistan, India, Malaysia dan Indonesia.

  1. Rifa’iyah

Aliran ini didirikan oleh Muhammad ar-Rifa’i (1183 M). Tarikat Rifa’i terkenal dengan amalannya berupa penyiksaan diri dengan melukai bagian-bagian badan dengan senjata tajam diiringi dengan dzikir-dzikir tertentu.

  1. Sammaniyah

Aliran ini didirikan oleh Syeikh Muhammad Samman. Riwayat hidup pendiri tarekat ini sangat terkenal dahuli di Jakarta. Cara mencapai tujuan akhir diantaranya adalah berdzikir dengan suara lantang.

  1. Syattariyah

Aliran ini didirikan oleh Abdullah as-Syattari (1417 M). Aliran ini percaya pada ajaran kejawen mengenai tujuh tingkat keadaan Allah SWT. yang disebut dalam ilmu hakikat. Nabi Muhammad SAW. dilambangkan oleh aliran ini sebagai manusia sempurna (insan kamil) yang memantulkan kekuatan Illahi seperti cermin memantulkan cahaya. Pada aliran ini juga terdapat kepercayaan bahwa semua manusia mempunyai bakat untuk menjadi manusia sempurna dan harus berusaha untuk mencapai kesempurnaan itu. Dalam hubungan ini terdapat pandangan tentang hubungan manusia dengan Allah SWT. seperti seorang pelayan dengan majikannya.

  1. Naqsyabandiyah

Aliran ini didirikan oleh Muhammad An-Naqsyabandi (1388 M). Aliran ini menyelenggarakan dzikir tertutup atau dzikir diam yakni menyebut nama Allah SWT. dengan berdiam diri.

Sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kedua sumber agama Islam itu penuh dengan nilai dan norma yang menjadi ukuran sikap dan perbuatan manusia apakah baik atau buruk, benar atau salah. Isi Al-Qur’an dan Al-Hadits penuh dengan akhlak Islami yang perlu diteladani dan dilaksanakan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari setiap muslim dan muslimat. Islam sebagai agama dan ajaran mempunyai sistem sendiri yang bagian-bagiannya saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Intinya adalah tauhid, yang berkembang melalui aqidah, dari aqidah mengalir syari’ah dan akhlak Islam.

PANDANGAN UMMAT ISLAM TERHADAP TASAWUF

Mengenai asal-usul perkataan tasawuf para ahli berbeda pendapat. Di antara pendapat yang banyak itu, ada satu pendapat yang sering ditulis dalam buku-buku mengenai tasawuf di Indonesia. Pendapat itu mengatakan tasawuf berasal dari kata suf artinya bulu domba kasar. Disebut demikian karena orang-orang yang memakai pakaian itu disebut orang-orang sufi atau mutasawwif, hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Mereka memakai pakaian yang terbuat dari bulu binatang sebagai lambang kemiskinan dan kesederhanaan, berlawanan dengan pakaian yang terbuat dari sutera yang biasa dipakai oleh orang-orang kaya. Banyak juga definisi yang diberikan untuk merumuskan makna yang dikandung oleh perkataan tasawuf.

Menurut at-Taftazani, tasawuf mempunyai 5 (lima) ciri, yaitu :

  1. Memiliki nilai-nilai moral.
  2. Pemenuhan fana (sirna, lenyap) dalam realitas mutlak.
  3. Pengetahuan intuitif (berdasarkan bisikan hati) langsung.
  4. Timbulnya rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah SWT. dalam diri sufi karena tercapainya maqamat (beberapa tingkatan perhentian) dalam perjalanan sufi menuju (mendekati) Tuhan.
  5. Penggunaan lambang-lambang pengungkapan (perasaan) yang biasanya mengandung pengertian harfiah dan tersirat. (Ensiklopedi Islam, 1933: 73 – 75) .

Tasawuf juga berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, dapat dilihat ayat-ayat dan hadits-hadits yang menggambarkan dekatnya manusia dengan Allah SWT. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. QS. Al-Baqarah ayat 115 artinya :

 “Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

  1. QS. Qaf ayat 16 artinya :

 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya”.

  1. Hadits Riwayat Imam Bukhari, artinya :

Barang siapa memusuhi seseorang wali-Ku (wali Allah SWT. adalah orang yang dekat dengan-Nya), maka aku mengumumkan permusuhan-Ku terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Kusukai dari pengalaman segala yang Kuwajibkan atasnya. Kemudian, hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya. Bila Aku telah cinta kepadanya, Akulah pendengarnya dengan ia mendengar, Aku penglihatannya dengannya ia melihat, Aku tangannya dengannya ia memukul, dan Aku kakinya dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, Kulindungi ia”.

Sejak muncul paham widhatul wujud, tasawuf pecah menjadi dua aliran, yaitu aliran pertama, aliran tasawuf yang didasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sedangkan aliran yang kedua, aliran fana yang disebut sebagai tasawuf falsafi, disebut demikian karena teori-teori yang dikemukakannya banyak mengandung unsur-unsur filsafat (Ensiklopedi Islam, 1992: 76 -77, 158 – 160).

STASIUN-STASIUN DALAM TASAWUF UNTUK MENGAKRABKAN DIRI DENGAN ALLAH

Ada empat macam tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba yang menekuni ajaran tasawuf untuk mencapai suatu tujuan yang disebut sebagai “As-Sa’adah” menurut Imam Al-Ghazali dan “Insanul Kamil” menurut Muhyiddin bin ‘Arabiy, diantaranya sebagai berikut :

1. Syari’at, adalah hukum-hukum yang telah diturunkan oleh Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah ditetapkan oleh ulama melalui sumber nash Al-Qur’an maupun Al-Hadits atau dengan cara istimbat yaitu hukum-hukum yang telah diterangkan dalam ilmu Tauhid, Fiqh dan Tasawuf. Isi syari’at mencakup segala macam perintah dan larangan dari Allah SWT. Perintah-perintah itu disebut sebagai istilah ma’ruf yang meliputi perbuatan yang hukumnya wajib atau fardhu, sunnah, mubah atau membolehkan. Sedangkan larangan-larangan dari Allah SWT. disebut dengan munkar yang meliputi perbuatan yang hukumnya haram dan makruh. Baik yang ma’ruf maupun munkar sudah ada petunjuknya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

2. Tarekat, adalah pengamalan syari’at, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan dari sikap mempermudah ibadah yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah (diremehkan). Kata tarekat dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi amaliah ibadah dan dari sisi organisasi (perkumpulan). Sisi amaliah ibadah merupakan latihan kejiwaan, baik yang dilakukan oleh seorang atau secara bersama-sama, dengan melalui dan mentaati aturan tertentu untuk mencapai tingkatan kerohanian yang disebut maqamat atau al-ahwal, yang mana latihan ini diadakan secara berkala yang juga dikenal dengan istilah suluk. Sedangkan dari sisi organisasi maka tarekat berarti sekumpulan salik (orang yang melakukan suluk) yang sedang menjalani latihan kerohanian tertentu yang bertujuan untuk mencapai tingkat atau maqam tertentu yang dibimbing dan dituntun oleh seorang guru yang disebut mursyid.

Adapun tingkatan maqam tarekat tersebut antara lain menurut Abu Nashr As-Sarraj adalah sebagai berikut :

  1. Tingkatan Taubah (Tingkatan Taubat).
  2. Tingkatan Al-Wara (Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan yang
    makruh, serta yang syubhat)
  3. Tingkatan Az-Zuhd (Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia)
  4. Tingkatan Al-Faqru (Tingkatan memfakirkan diri)
  5. Tingkatan Al-Shabru (Tingkatan Sabar)
  6. Tingkatan At-Tawakkal (Tingkatan Tawakkal)
  7. Tingkatan Ar-Ridha (Tingkatan kerelaan)

3. Hakikat, adalah suasana kejiwaan seorang salik (sufi) ketika ia mencapai suatu tujuan tertentusehingga ia dapat menyaksikan tanda-tanda ketuhanan dengan mata hatinya. Hakikat yang didapatkan oleh seorang sufi setelah lama menempuh tarekat dengan melakukan suluk, menjadikan dirinya yakin terhadap apa yang dialami dan dihadapinya. Karena itu seorang sufi sering mengalami tiga macam tingkatan keyakinan, yaitu :

  1. ‘Ainul Yaqin, yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh pengamatan indera terhadap alam semesta, sehingga menimbulkan keyakinan tentang kebenaran Allah SWT. sebagai penciptanya.
  2. ‘Immul Yaqin, yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh analisis pemikiran ketika melihat kebesaran Allah SWT. pada alam semesta ini.
  3. ‘Haqqul Yaqin, yaitu tingkatan keyakinan yang didominasi oleh hati nurani sufi tanpa melalui ciptaan-Nya, sehingga ucapan dan tingkah lakunya mengandung nilai ibadah kepada Allah SWT. Maka kebenaran Allah SWT. langsung disaksikan oleh hati, tanpa bisa diragukan oleh keputusan akal.

Pengalaman batin yang sering dialami oleh seorang sufi melukiskan bahwa betapa erat kaitan antara hakikat dengan ma’rifat, di mana hakikat itu merupakan tujuan awal tasawuf, sedangkan ma’rifat merupakan tujuan akhirnya.

4. Ma’rifat, adalah hadirnya kebenaran Allah SWT. pada seseorang sufi dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan nur Ilahi. Ma’rifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam akal pikiran. Barang siapa meningkatkan ma’rifatnya, maka meningkat pula ketenangan hatinya.

Akan tetapi tidak semua sufi dapat mencapai pada tingkatan ini, karena itu sesorang yang sudah sampai pada tingkatan ma’rifat ini memiliki tanda-tanda tertentu, antara lain :

  1. Selalu memancar cahaya ma’rifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu sikapwara’ selalu ada pada dirinya.
  2. Tidak menjadikan keputusan pada suatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran tasawuf belumtentu benar.
  3. Tidak menginginkan nikmat Allah SWT. yang banyak baut dirinya, karena hal itu bisa membawanya pada hal yang haram.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seseorang sufi tidak menginginkan kemewahan dalam hidupnya, kiranya kebutuhan duniawi sekedar untuk menunjang ibadahnya, dan tingkatan ma’rifat yang dimiliki cukup menjadikan ia bahagia dalam hidupnya karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhannya.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: